Sore itu, Dia duduk di ujung coffee shop sambil menggenggam cangkir kecil berisi espresso favoritnya. Matanya masih tampak basah, sorot matanya lesu. Dia menangisi yang seharusnya tak perlu ditangisi. Seseorang yang tak pernah mengganggapnya ada kini akhirnya memutuskan untuk benar benar membuangnya. Dia tahu seharusnya dia bahagia, tapi dia justru merasa jiwanya ikut pergi bersama laki laki itu. Menjalani hari bertahun tahun dengan laki laki yang mengekang kebebasannya membuat dia lupa rasanya jadi manusia seutuhnya. Dia lupa caranya bahagia, dia lupa bagaimana caranya berdiri tanpa bantuan dari laki laki itu. Dan kini alih alih dia menikmati kebebasannya , dia justru terpuruk dan merasa kalah sekalah kalahnya. 5 tahun yang lalu.. Hari pertama Dia masuk kerja di kantor barunya, sebuah perusahaan yang sudah Dia idam idamkan sejak lama. Hari itu menjadi hari yang tak pernah Dia duga akan merubah hidupnya. Laki laki itu berdiri tersenyum sambil menyodorkan tangan. Muncul sebaga...