Jeruji Tak Kasat Mata

Sore itu,

Dia duduk di ujung coffee shop sambil menggenggam cangkir kecil berisi espresso favoritnya. Matanya masih tampak basah, sorot matanya lesu. Dia menangisi yang seharusnya tak perlu ditangisi. Seseorang yang tak pernah mengganggapnya ada kini akhirnya memutuskan untuk benar benar membuangnya.

Dia tahu seharusnya dia bahagia, tapi dia justru merasa jiwanya ikut pergi bersama laki laki itu. Menjalani hari bertahun tahun dengan laki laki yang mengekang kebebasannya membuat dia lupa rasanya jadi manusia seutuhnya. Dia lupa caranya bahagia, dia lupa bagaimana caranya berdiri tanpa bantuan dari laki laki itu.

Dan kini alih alih dia menikmati kebebasannya , dia justru terpuruk dan merasa kalah sekalah kalahnya.

5 tahun yang lalu..

Hari pertama Dia masuk kerja di kantor barunya, sebuah perusahaan yang sudah Dia idam idamkan sejak lama. Hari itu menjadi hari yang tak pernah Dia duga akan merubah hidupnya. Laki laki itu berdiri tersenyum sambil menyodorkan tangan. Muncul sebagai laki laki pertama yang menerima Dia di tempat yang benar benar baru. Semua orang di kantor memanggilnya abang, dia dianggap sebagai orang yang di tua kan di kantor itu. Dan abang mampu membuat proses adaptasi di tempat baru yang biasanya sulit menjadi lebih mudah. Abang hadir dengan kesan pertama yang menyenangkan. Begitupun hari hari setelahnya.

Hingga hari itu....

Abang mengajak Dia makan malam. Setelah piring mereka sama sama kosong, abang memulai pembicaraan dengan mimik muka serius yang tidak seperti biasanya. Abang menanyakan kesediaannya untuk menerima abang sebagai kekasihnya. Abang meyakinkan Dia untuk menjalani hari bersama, menjadi satu yang tak terpisahkan. Dia yang awalnya ragu pun akhirnya mengiyakan. Entahlah, Dia hanya tak punya alasan mengapa harus menolak laki laki seperti abang. Dia pikir dengan abang semuanya akan baik baik saja.

Sejak malam itu ..

Abang dan Dia telah menjadi pasangan yang tak terpisahkan. Hari hari nya sejak pagi hingga malam hanya ada abang yang menemani. Semua tampak begitu sempurna kecuali saat abang mulai cemburu. Abang selalu mengecek semua pesan dan telepon yang masuk ke handphone Dia. Abang membatasi dan mengatur dengan siapa Dia bergaul dan menghabiskan waktu ketika abang tidak ada. Tapi bagi Dia itu sesuatu yang wajar. Abang mencintainya hingga abang tak membiarkan kesempatan sekecil apapun bagi orang lain untuk hadir di hidup Dia dan menggantikan posisi abang. Dan biasanya ketika rasa cemburu abang tidak tertahan , abang meluapkannya dengan kemarahan. Dengan makian makian kasar dan tak jarang pukulan ke tubuh Dia. Dia kesakitan tapi bagi Dia rasa sakit itu sebanding dengan cinta yang Dia dapat dari abang. Bagi Dia pukulan dan makian yang Dia terima adalah cara abang menjaganya. Dia mulai terbiasa kesakitan dan abang pun mulai terbiasa menyakiti.

Mereka saling mencintai dengan cara yang tidak dimengerti orang lain. Dia makin jauh dari keluarga dan teman teman Dia. Di dunia nya hanya ada abang. Dan ketika malam itu tiba Dia kehilangan satu satunya yang Dia punya. Dia memergoki abang mencium perempuan lain. Dia hancur, lalu mulai menyalahkan dirinya sendiri. Dia yang kurang memperhatikan abang hingga abang mencari perempuan lain sebagai penggantinya. Dia tak sanggup untuk marah apalagi membenci abang. Dia memaafkan abang sebelum abang datang dan meminta maaf. Namun ternyata abang tak pernah datang lagi. Abang memilih pergi dan meninggalkan Dia dengan kewarasan yang tak lagi sempurna..

Komentar